Feeds:
Pos
Komentar

Produsen terigu dalam negeri berkomitmen tak akan menaikan harga terigu di dalam negeri khususnya setelah ditetapkannya Bea Masuk Anti-Dumping (BMAD) terigu Turki. Selain itu harga gandum internasional saat ini menunjukan tren penurunan sehingga harga terigu lokal justru turun.

“Waktu itu sudah ada komitmen tertulis dari produsen sebelum adanya BMAD,” kata Direktur Makanan Kementerian Perindustrian Faiz Achmad saat ditemui di kantor Kadin, Jakarta, Selasa (13/7/2010).

Ia mengatakan khusus untuk BMAD terigu Turki, jika nantinya sudah diberlakukan efektif, ia yakin tak akan mempengaruhi signifikan bagi industri kecil yang selama ini memakai terigu impor Turki.

Selain itu kata dia, saat ini harga gandum internasional cenderung turun, sehingga tak ada alasan bagi produsen terigu menaikan harga jualnya khususnya menjelang puasa dan lebaran.

“Aptindo sudah berjanji kalau BMAD diberlakukan, mereka tidak akan menaikan harga terigu, setahun,” tambah Faiz.

Namun ia menggarisbawahi hal ini perlu ditanyakan kembali ke pihak asosiasi produsen tepung terigu Indonesia (Aptindo) mengingat kondisinya sudah berubah apalagi akan menghadapi lebaran dan puasa.

Sementara itu Direktur Eksekutif Aptindo Ratna Sari Loppies mengatakan secara prinsip harga terigu lokal hanya dipengaruhi oleh harga gandum dan kurs rupiah terhadap dolar.

Saat ini kata dia harga terigu lokal justru turun semenjak Juni 2010 karena harga gandum turun. Ia menegaskan penurunan harga ini tak ada kaitannya dengan akan diberlakukan BMAD terigu Turki.

“Ini tak ada kaitannya dengan BMAD,” tegasnya.

Sebelumnya Komite Anti Dumping Indonesia (Kadi) telah merekomendasikan agar produsen tepung terigu asal Turki yang menjual ke Indonesia dikenakan BMAD berkisar antara 19,67%-21,99%, karena terbukti menyebabkan kerugian pemohon akibat impor komoditas tersebut atas praktik dumping.

Kadi telah menuntaskan penyelidikan terhadap tepung terigu impor dari Turki berdasarkan petisi yang diajukan Aptindo. Aptindo mewakili tiga perusahaan di dalam negeri yakni PT Eastern Peral FM, PT Sriboga, dan PT Panganmas.

Rekomendasi Kadi tersebut telah ditindaklanjuti oleh Menteri Perdagangan melalui surat kepada Menteri Keuangan tertanggal 31 Desember 2009.

Namun selama 7 bulan berjalan rekomendasi Kadi belum juga mendapat direspons atau dieksekusi oleh pihak Kementerian Keuangan. Maklum saja, telah terjadi kontroversi terhadap rekomendasi tersebut, meski saat ini sudah disetujui pemerintah untuk diterapkan.

“PMK (Peraturan Menteri Keuangan) akan segera diterbitkan,” tambah Faiz.

Sumber: Detikfinance

Singkong merupakan pangan lokal yang telah lama diminati oleh masyarakat. Pada zaman perang, saat masuknya Jepang ke Indonesia, beras sangat langka dan sulit didapat, tetapi masyarakat tidak kurang akal. Kita semua memanfaatkan singkong sebagai pengganti nasi. Ini berarti masyarakat telah mengenal makanan yang mengenyangkan (sumber karbohidrat), memilih singkong sebagai makanan pokok karena mudah didapat di pasar.

Sebenarnya saat itu sumber karbohidrat jenisnya sangat banyak, seperti talas, ganyong, dan ubi. Namun, yang populer adalah singkong yang dimasak dengan diparut (sawut) yang bentuknya mirip nasi. Ditinjau dari segi gizi, selain merupakan sumber kalori, singkong juga mengandung protein, lemak, hidrat arang, kalsium, fosfor, zat besi, serta vitamin B dan vitamin C.

Kandungan protein yang kecil dapat dipadukan dengan protein dari lauk-pauk sehingga dapat melengkapi kebutuhan sehari-hari. Juga dapat melengkapinya dengan sayuran dan buah.

Sekarang ini para ahli telah banyak memanfaatkan singkong menjadi industri seperti dibuat beras aruk yang berbentuk butiran menyerupai beras. Ini dapat diolah menjadi nasi aruk atau dapat dicampur dengan beras dan rasanya tetap nikmat. Selain itu, juga diolah menjadi mi cassava (singkong).

Mi singkong ini merupakan produk olahan campuran tepung singkong dan pati singkong yang dapat dibuat dalam bentuk basah maupun kering. Salah satu produk yang terkenal adalah mi bendo, produk ini dihasilkan oleh pengusaha di Desa Bendo, Kabupaten Bantul, Provinsi DIY.

Industri tepung cassava
Tepung cassava adalah tepung yang dibuat secara langsung dari singkong yang dikeringkan dan dijadikan tepung, tetapi bukan dibuat gaplek sehingga warnanya masih keputihan. Tepung inilah yang kemudian diolah menjadi mi dan hasil masakan dari mi ini tetap nikmat. Hal ini bergantung pada bagaimana mengolah resepnya dan campuran isinya.

Karena singkong dianggap bernilai sosial rendah dalam era globalisasi, kita dapat mengangkatnya sesuai selera global. Misalnya, selera serba mentega dan telur menjadi cake atau dengan selera serba keju dibuat combro yang rasanya lebih nikmat sehingga pastinya akan diminati karena dimodifikasi dengan penambahan keju.

Ini hanyalah salah satu contoh, sebenarnya hidangan apa pun jika diramu dengan perpaduan yang lengkap gizi akan menjadi hidangan yang sehat dan nikmat. Oleh karenanya, jangan meremehkan satu jenis makanan karena jika diracik dan dipadu dengan bahan dan bumbu yang tepat, akan menjadi hidangan yang nikmat, malahan bergizi dan sehat.

Oleh: Ibu Tuti Soenardi (KOMPAS)

Bertempat di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, 24 Nopember 2009, yang lalu Menteri Pertanian Ir.Suswono, MMA melakukan “Pencanangan Percepatan Produksi Tepung Fermentasi dan Deklarasi Kemandirian Tepung Nasional”.  Acara ini antara lain dihadiri oleh para pimpinan daerah penerima bantuan kegiatan pengembangan agroindustri tepung-tepungan, Ibu-ibu penggerak PKK, Gapoktan, pelaku usaha tepung dan undangan lainnya.

Mengawali sambutannya, Menteri Pertanian mengatakan bahwa Pencanangan Percepatan Produksi Tepung Fermentasi dan Deklarasi Kemandirian Tepung Nasional ini sangat strategis dalam upaya mendorong peningkatan pembangunan agroindustri tepung-tepungan nasional, terutama peningkatan produksi tepung fermentasi yang saat ini mulai kembali digemari oleh masyarakat. Pencanangan ini diharapkan dapat mengawali peningkatan tambahan produksi tepung sekitar 20% dari kebutuhan impor nasional selama lima tahun ke depan. Mentan menjelaskan bahwa pada tahun 2008, impor gandum kita mencapai 5,2 juta ton.

Sedangkan dari 22,7 juta ton produksi ubi kayu, yang diolah menjadi bahan pangan dan non pangan baru mencapai 22,3% atau setara dengan 4,6 juta ton ubikayu segar. Hal ini berarti peluang pasar untuk tepung dari ubi kayu masih cukup besar.

Untuk mendukung kemandirian pangan dan daya saing produk lokal tersebut, pemerintah telah memberlakukan pengetatan pengawasan keamanan pangan segar asal tumbuhan melalui PERMENTAN No. 27 Tahun 2009 yang berlaku efektif sejak 19 Nopember 2009. Dengan diberlakukannya peraturan ini, maka komoditas impor yang tidak memenuhi ketentuan yang telah ditetapkan serta tidak aman untuk dikonsumsi, ditolak masuk ke Indonesia.  Adapun komoditas yang terkena peraturan ini antara lain gandum, jagung, kacang-kacangan dan beberapa serealia lainnya.

Komitmen Pemerintah dalam mengembangkan pangan nonberas, antara lain melalui berbagai kebijakan seperti mendorong diversifikasi pola konsumsi berbasis pangan lokal; meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap keanekaragaman pangan; dan mendorong pengembangan teknologi pengolahan pangan non beras dan non terigu. Adapun beberapa upaya yang telah dilakukan pemerintah untuk mendorong industrialisasi tepung cassava antara lain berupa pemberikan stimulus pengembangan tepung-tepungan pada usaha kecil bidangpangan; sosialisasi, advokasi dan pembinaan peningkatan pemanfaatan pangan lokal melalui tepung-tepungan; pemberian peralatan pengolahan tepung-tepungan kepada usaha kecil bidang pangan dalam upaya meningkatkan produktivitas dan mutu tepung yang dihasilkan; mendorong keterlibatan perguruan tinggi dalam meneruskan sosialisasi dan pengembangan teknologi tepung-tepungan; dan terus mengupayakan pencitraan tepung cassava menjadi tepung nasional.

Pada kesempatan kunjungan kerja tersebut, Mentan menyerahkan sarana pengolahan tepung, antara lain berupa peralatan, starter(inokulan) fermentasi dan sarana bangunan secara simbolis kepada para bupati yang wilayahnya mendapat alokasi bantuan pada tahun anggaran 2009.

Menteri Pertanian juga menegaskan, kita harus mampu mempertahankan keberhasilan swasembada beras, dan kesanggupan negara kita memenuhi sebagian dari permintaan beras internasional, sekaligus menjadikan momentum ini untuk mencapai keberhasilan dalam upaya pengembangan agribisnis ubi kayu, khususnya di bidang pengolahan dan pemasaran hasil yang dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat di sentra-sentra produksi ubi kayu.

Mengakhiri kata sambutannya, Menteri Pertanian menegaskan pentingnya sinkronisasi dan sinergitas berbagai pihak yaitu antara pemerintah, petani, industri dan pelaku bisnis, pakar, peneliti, asosiasi, akademisi dan pihak-pihak terkait lainnya, akan sangat menentukan keberhasilan pembangunan agribisnis tepung-tepungan.

Selamat Idul Fitri 1430H

idul fitriKami mengucapkan Selamat Idul Fitri 1430H, mohon maaf atas segala salah dan khilaf. Semoga Allah SWT memberi kita semua berkah Ramadhan, dan memudahkan setiap langkah kita di masa mendatang. Juga kami berharap semoga silaturrahim diantara kita semakin erat untuk membangun sinergi menggapai hari esok yang lebih.

Mocal/f, kali ini menjadi berita utama di majalah Trubus. berikut ini adalah pengantar yang ditulis oleh redaksi trubus. berita lebih lengkap bisa dibaca langsung di majalah trubus edisi agustus.
terimakasih kepada mas Bagio yang telah share informasi ini via facebook.

salam,
SAMSUL HADI

=================================================
Indonesia kembali memecahkan rekor dunia berkat temuan Dr Achmad Subagio. Peneliti dari Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember itu berhasil menemukan mocaf, produk olahan terbaru dari singkong Manihot esculenta. Temuan pertama di dunia itu bukanlah hal sepele lantaran mocaf sanggup mengganti kebutuhan tepung gandum yang selama ini masih diimpor. Untuk membuat 1 kilo mi, misalnya, mocaf mensubstitusi 50% tepung gandum atau terigu. Sementara untuk membuat kue, terigu bisa digantikan seluruhnya oleh mocaf.

Nilai mocaf, seperti penelusuran wartawan Trubus, Nesia Artdiyasa luar biasa besarnya. Sebab, aroma dan citarasa mocaf setara terigu. Seluruh kebutuhan terigu kita yang mencapai 6-juta ton per tahun, mengandalkan impor. Dengan ditemukannya mocaf, diharapkan mengurangi arus devisa ke mancanegara.

Awal tahun ini wartawan Anda memperoleh undangan untuk menghadiri World Tapioca Conference di Bangkok. Para ahli singkong di dunia berkumpul di sana untuk membicarakan peluang besar pengembangan singkong dunia. Toh, waktu itu tak ada satu pun ahli yang menyebutkan, singkong bisa menjadi mocaf. Padahal, nilai mocaf sebanding dengan dekstrin, atau produk ikutan lain dari cassava starch.

Pembaca sekalian, mocaf menjadi topik utama untuk paparan peluang bisnis yang paling mutakhir saat ini. Mendampingi mocaf, kami sajikan paparan indahnya haworthia, gasteria, atau aneka aloe yang jarang terlihat. Sementara bagi para pemerhati tanaman obat tradisional, bersamaan dengan terbitnya majalah Anda ini, beredar pula Infokit Volume 08, yang khusus membahas herbal Indonesia. Paparan dilengkapi bukti ilmiah dan cara meracik, berikut aneka cara hidup sehat lewat minuman tradisional.

Perum Bulog segera masuk bisnis tepung cassava, setelah menandatangani kerja sama dengan dua pabrikan besar terigu PT Sriboga Raturaya dan PT Nectar Agro Nusantara, awal pekan ini.

Untuk mengetahui pendapat kalangan produsen skala kecil tepung berbahan singkong, Bisnis mewawancarai Ketua Umum Gabungan Koperasi Tepung Rakyat Indonesia (Gakoptri) Samsul Hadi, berikut petikannya;

Apa pendapat Anda terhadap kerja sama Bulog itu?

Peran Bulog dalam bisnis tepung cassava hendaknya didasarkan pada dua hal. Pertama, mendorong keterkaitan agrobisnis singkong (hulu) dengan industri tepung dan industri makanan. Kedua, pengembangan itu didasarkan pada strategi penguatan usaha rakyat agar bisa bersaing dengan usaha besar dan asing.

Singkong saat panen pasti jatuh harganya. Nah, tepung cassava, khususnya modified cassava flour atau mocal, punya kelebihan dalam prosesnya, yakni memberi kesempatan kepada petani untuk mengubah singkong basah menjadi chip kering, di dalamnya termasuk proses fermentasi.

Chip itulah yang mestinya bisa dikerjakan di tingkat petani/ koperasi, karena bisa tahan berbulan-bulan sampai tahunan. Artinya, kalau saat harga singkong jeblok, simpan saja dalam bentuk chip mocal. Nah, Bulog seharusnya bisa membeli chip dari petani ini, jangan hanya dalam bentuk tepung cassava, karena petani dan industri kecil terbatas kemampuannya memproduksi tepung.

Dengan demikian ada nilai tambah di tingkat petani, yang bekerja mengubah singkong basah menjadi chip. Buloglah yang menjaga agar harga chip wajar/ tidak dimainkan tengkulak atau pabrikan tepung cassava.

Harap maklum, daya tahan petani menyimpan chip singkong pasti terbatas. Dia pasti butuh uang. Nah, model resi gudang bisa masuk, tetapi harus disederhanakan, karena petani pasti susah pakai model resi gudang seperti yang ada sekarang.

Kenapa yang digandeng bukan Gakoptri?

Ha ha ha… Mereka [Sriboga dan Nectar] belum ada yang memproduksi tepung mocal. Itu cuma di atas kertas. Kalau toh, memproduksi, seperti Sriboga Semarang, itu baru tahap uji coba. Barangkali Bulog belum pede [percaya diri] kalau berurusan dengan koperasi.

Di internal Bulog memang belum solid, belum ada kelembagaan khusus yang mengurusi bisnis tepung cassava. Itu PR [pekerjaan rumah] pertama yang harus mereka kerjakan. Dua bulan lalu saya dan komunitas tepung mocal plus industri pangan yang siap menggunakan mocal mengadakan diskusi di kantor Bulog lt 10. Rekomendasi dari pertemuan itu sudah disampaikan ke Pak Dirut [Mustafa Abubakar]. Tetapi gak direwes [diperhatikan]. Justru setelah Dirut ke Roma terkait dengan pengembangan pangan alternatif, dan bertemu dengan orang Afrika, Pak Mustafa baru sadar tentang besarnya potensi cassava.

Salah satu titik tekan yang diharapkan Gakoptri adalah apabila Bulog masuk ke bisnis cassava, yang pertama harus mendapat keuntungan adalah petani. Jangan sampai industri menekan harga beli singkong petani di bawah Rp400 per kg.

Mocal punya potensi ke sana, karena harga jualnya bisa didorong mendekati tepung terigu, dan pasti di atas tepung tapioka. PR-nya, bagaimana membagi spread itu agar bagian terbesar-nya dinikmati petani. Jangan seperti petani padi, tetap miskin.

Bagaimana roadmap mocal?

Versi Gakoptri, pada 2011 tepung lokal bisa menyubstitusi 10% terigu impor. Kira-kira 500.000 ton per tahun. Tetapi ini harus dilakukan melalui dukungan pemerintah. Target itu mestinya tidak hanya dipenuhi dari mocal. Ada banyak macam tepung cassava, baik yang modifikasi maupun yang tidak, yang bisa menjadi substitusi terigu, walaupun dengan kadar yang berbeda-beda.

Produksi mocal saat ini?

Khusus untuk mocal, saat ini produksi riil masih di bawah 10.000 ton per tahun. Coba bandingkan, ada satu pabrik tapioka di Lampung, kapasitas produksinya 200 ton tapioka per per hari. Anggap saja pabik itu bekerja 300 hari setahun, artinya 1 pabrik itu saja menghasilkan 60.000 ton.

Artinya, porsi produksi mocal dibandingkan dengan tepung cassava lainnya, masih sangat kecil. Walaupun sebenarnya perbandingan itu tidak fair, karena sebagian besar produk cassava untuk keperluan lem industri plywood, sebagian untuk konsumsi pakan ternak, sedangkan mocal diarahkan untuk food ingredient. Di sini tampak butuh insentif guna mendorong industri baru sebanyak-banyaknya untuk masuk ke produksi tepung mocal.

Cassava itu luas. Mocal hanyalah salah satunya. Pada dasarnya singkong yang dikupas, dijemur kering, lalu di giling menjadi tepung, itu namanya tepung cassava, dan bisa untuk substitusi terigu, walaupun dengan kualitas dan aplikasi yang terbatas pula.

Bila itu yang jadi pilihan, ide menyejahterakan petani dan industri kecil tidak akan terwujud, justru dengan mocal, ada proses fermentasi di tingkat petani/ koperasi. Itulah nilai tambah yang diharapkan bisa terwujud dari proses mocal.

Sebaran produsen mocal?

Pabrik skala kecil sudah jalan di Lampung, Jabar, Jateng, dan Jatim. Tahun ini sosialisasi diperluas ke Sumbar, Sulsel, Sumut, dan NAD. Strateginya mendorong industri kecil lokal di bidang makanan agar menyubstitusinya dengan tepung mocal produsi lokal pula.

Pewawancara : Moh. Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia

Perum Bulog bekerja sama dengan PT Sriboga Raturaya dan PT Nectar Agro Nusantara dalam mengembangkan cassava (tepung singkong), sebagai upaya mendiversifikasi pangan.

Dirut Perum Bulog Mustafa Abubakar mengatakan Bulog berperan dalam menyediakan cassava kepada dua perusahaan tersebut serta menyerap komoditas itu dari para petani.

“Kepada pengusaha dan produsen tepung terigu dari singkong yang membutuhkan bahan baku tersebut, Bulog siap untuk menyediakan,” ujarnya kepada Bisnis, kemarin.

Kesepakatan kerja sama itu (MoU) ditandatangani pada saat perayaan Ulang Tahun ke-42 Bulog.

Mustafa menjelaskan dengan adanya kerja sama tersebut akan memudahkan bagi kedua perusahaan itu dalam mendapatkan pasokan cassava. Bulog, katanya, akan berkoordinasi dengan produsen komoditas itu dan menyerap produksi mereka.

Seluruh stakeholder yang berhubungan dengan cassava, lanjutnya, akan dikoordinasikan di bawah Bulog seperti penelitian dan pengembangan komoditas itu yang akan melibatkan universitas.

Menurut Dirut, cassava memiliki potensi bagus terutama dalam menggantikan tepung terigu dari gandum dan beras, sehingga dapat menjadi alternatif dan program diversifikasi pangan dalam negeri.

Selain menyediakan bahan baku kepada dua perusahaan itu, kata dia, Bulog bersedia untuk membantu memasarkan produk tersebut setelah diolah jika kedua perusahaan itu meminta jasa badan logistik tersebut.

Mustafa menuturkan produk tepung cassava telah diterima di masyarakat, sehingga kedua perusahaan itu tidak akan kesulitan dalam memasarkannya. Namun, Bulog bersedia membantu memasarkan dengan fasilitas yang dimiliki Bulog di berbagai divisi regional di daerah.

(sumber: Bisnis Indonesia)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.